101. Fiksi: Back to the Future

Apa-apaan ini.

Nesia sedang duduk berhadap-hadapan dengan wanita berbadan kecil. Di dalam sebuah restoran, di hadapan makanan bernama ‘mie ayam’. Wanita di depannya masih menatap dia bingung, namun tidak melanjutkan apapun yang sedang dia katakan tadi sebelum Nesia ‘tersadar’.

Nesia menatap sekeliling, dia melihat meja-meja restoran itu terisi penuh. Ada mangkok di semua meja. Baiklah, tempat ini adalah restoran bakmie ayam. Selain mangkok, ada juga koper-koper kecil di samping setiap meja. Melihat itu, Nesia memalingkan wajah ke arah mejanya sendiri. Ada kertas bertuliskan ‘Lion Air’. Tidak dibutuhkan kepintaran untuk tau kalau dia sedang berada di bandar udara, dengan tujuan Yogyakarta.

“Boarding time: 18.30”

Mata Nesia mencari cepat ke seluruh restoran. Benda dengan bentuk apapun yang dapat memberikan informasi. Astaga!

“Mbak, maaf. Gate 3A dimana ya?,” tanya Nesia, panik. Dengan satu tarikan nafas, dia berhasil memasukkan semua barang di atas meja ke tas tangannya, minum tegukan terakhir air bening dan bersiap beranjak.

“Ehhh mbak. Kita kan disini karna pesawatnya delay.”

Nesia yang pintar tidak percaya begitu saja. “Mbak menggunakan Lion Air juga?”

“Mbak kok lupa sih,” kata si mbak yang masih belum diketahui namanya ini sambil menunjukkan boarding passnya, “cuman saya mau ke Solo”.

“Nunggu disini aja mbak. Katanya masih sejam lagi.”

Well, Nesia memang tidak ingat kenapa dia ada disana. Tapi dia tau betul kalau perutnya lapar. Melihat mangkok mienya yang baru habis sepertiga, Nesia menuruti saran mbak tersebut.

“Sampai mana tadi kita… Oh iya. Iya gituuu mbak, disana mah biasa aja punya anak tapi gak nikah,” jelas si mbak sambil menggerakkan pergelangan tangannya yang menyiratkan ‘santai aja kali, mbak’.

Nesia tersedak. “Bisa diulang?!”

Karna masih merasa asing dengan mbak tersebut, Nesia tidak berbicara banyak dan memilih menyimpan pendapat hanya dalam hatinya. Namun tampaknya mbak itu bisa membaca raut muka Nesia yang cukup menunjukkan rasa terkejut dengan mulut yang tidak kunjung menutup.

Yap, masih menganga dari detik tadi.

Mbak itu melanjutkan. “Iya di Singapur kan orang-orangnya stress kerja, mbak. Jadi begitu ada bule ganteng ngegoda dikit, langsung mau deh.”

Perlahan, Nesia bisa menyusun puzzle percakapan ini.

Dengan hati-hati dia bertanya.. “Oh jadi dia langsung mau ya.. emang bule mana, mbak?”

“Swiss. Majikan saya itu lawyer di Singapur. Tiap hari berangkat jam 7 pulang jam 9 malem.”

Yeah, 1 pertanyaan dikasih 3 jawaban. Nampaknya memang mbak tersebut menikmati didengarkan.

“Jadi sekarang saya yang ngurusin baby-nya. Soalnya majikan saya jarang di rumah, dan si bule itu cuman sebulan atau dua minggu sekali ke Singapur.”

Nesia menaikkan alis, tanda ‘keep talking, mbak’.

“Iya dia kan punya 3 anak di Swiss, jadi gak bisa sembarangan ke Singapur.”

WHUTTTSTSTSTST!!

Nesia merespon “WHUTTTSTSTSTST” di kepalanya. Tapi karna kata tersebut terlalu sulit diucapkan dan diterjemahkan dalam suatu lafal yang normal, maka ia hanya terdiam. Bingung.

Apa-apaan sih.

“Penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan XXXXXX tujuan Solo diharap untuk segera naik pesawat.”

“Eh itu pesawat saya, mbak. Saya duluan ya,” kata si mbak buru-buru ke kasir dan segera melangkah keluar restoran.

Mbak tadi gak bertanggung jawab. Dia melemparkan satu hal yang tidak bisa dicerna Nesia sendirian. Ia ditinggal masih dalam kebingungan yang kali ini sudah bergerak ke arah kekhawatiran.

“Apa sih orang di jaman ini. Gila kali ya punya anak tapi gak nikah! Gosh!”

Nesia mengambil boarding pass di dalam tasnya. ’16 Desember 2015′.

Nesia ingin muntah, kepalanya pusing. Tapi dia tau dia tidak bisa melakukannya di tempat ini. Jadi dia segera menyelesaikan mangkok ayamnya dan bergegas masuk ke ruang tunggu untuk mencari toilet.

Rupanya penumpang Lion Air yang terdampar tidak hanya dia. Seluruh ruang tunggu itu ramai dengan manusia. Bahkan karna jumlah tempat duduk tidak cukup, tidak sedikit penumpang yang duduk di lantai. Dengan laptop, HP, dan buku. Atau komik One Piece dengan earphone terpasang.

Masih dengan pikiran yang tidak tenang, Nesia memilih untuk duduk di antara segerombol penumpang muda.

“Gosh! Gila kali ya punya anak tapi gak nikah! Apa sih orang di jaman ini.”

Dengan pengetahuan yang terbatas, Nesia berusaha menganalisis penyebab mengapa hal demikian terjadi. Namun konsentrasi Nesia terganggu saat segerombolan anak muda yang berada di dekatnya entah kenapa berubah menjadi sangat berisik.

Seorang gadis berambut coklat tua panjang sedang memegang HPnya, dan kelima temannya mengelilingi dia dan menatap layar HPnya.

“Oh my God are you serious?”

“Iya kemaren kita ‘bobo-bobo cantik’. Hihihi.

“Gila lo kenal dimana?”

Again, tidak butuh jenius untuk tau kalau mereka sedang membicarakan makhluk berjenis ‘cowo’.

Nesia menenggelamkan mukanya di dalam genggaman tangannya. “GOSH. Apa sih bobo-bobo cantik..”

“Jadi lo ngapain aja, Vi?” kata si rambut pendek ke si rambut panjang.

“Ya… gitu deh,” jawab si rambut panjang disambut tawa panjang teman-temannya.

“Paan sih woy!” teriak Nesia dalam kepalanya, stress.

Nesia jelas tidak tau apa itu ‘bobo cantik’, dia hanya tau definisi ‘bobo’ dan ‘cantik’, tapi tidak ketika dua kata itu digabungkan.

Tapi somehow Nesia menangkap kesan kalau ‘bobo cantik’ itu adalah sesuatu yang…. aneh.. in a bad way.

Hati Nesia sangat gelisah. Dia tidak pernah merasa begitu asing dengan lingkungan disekelilingnya.

Dari tadi dia bertemu dengan orang-orang yang memiliki rupa, wajah, kaki, dan tangan sama seperti dia. Tapi dia tidak merasa familiar dengan satupun hal yang mereka bicarakan. Apakah karena dia berasal dari jaman yang beda?

“Penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan XXXXXX tujuan Yogyakarta diharap untuk segera naik pesawat.”

Finally. Nesia meraih tas nya dan berjalan lemas masuk ke dalam pesawat.

29C berada jauh di belakang. Kepala Nesia hanya tertunduk ke bawah menatap sepatunya. Tidak mau melihat apa yang tidak ingin dilihat, dan tidak ingin mendengar apa yang tidak sanggup untuk didengar.

Tapi entah kenapa, dia mengangkat kepalanya juga. Mungkin karna dia tidak tau sudah jalan seberapa jauh, dan khawatir melewatkan baris kursinya.

Baru saja dia mengangkat kepala, matanya menangkap aksi 2 remaja pria. No, remaja cowok yang sedang cekikikan melihat pramugari yang sedang membungkukkan badan dan membantu seorang penumpang memasang sabuk pengaman.

“Apa-apaan sih you guys….. Ah sudahlah.” Nesia lelah berkomentar. Dia mau segera cabut dari tempat ini.

Nesia duduk dan terus-menerus menutup mata sampai lampu pesawat dimatikan. Pesawat sudah berada di landasan pacu, siap untuk lepas landas.

Tak disangka-sangka, Nesia menyukai momen lepas landas. Bahkan hanya itu satu-satunya momen yang berkesan positif selama perjalanan singkatnya. Momen transisi pesawat dari mengandalkan roda menjadi mengandalkan sayap untuk terbang tinggi.

back-to-the-future

 

… …

“Nes, Nesia.”

Nesia membuka matanya. Odi sedang menatap dia. Nesia mengernyitkan dahi. “Apaan sih lo natapnya kaya gue tikus percobaan?”

“Lo paling lama tau travelnya. Kita khawatir,” kata Odi serius.

Nesia beranjak dari tempat dia berbaring sambil melepaskan alat travelling dari tubuhnya. Benar, seluruh kapsul di kelas sudah terbuka dan kosong.

Nesia duduk terdiam, masih dibayangi ingatan visual dan audio dari masa lalu.

Biba datang dari balik pintu dengan langkah tergesa.

“Nes syukur lo udah bangun! Tadi indikator badan lo rada aneh soalnya. Bu Jessi super khawatir tuh, lagi nyariin petugas kesehatan.” Nesia tersenyum, bersyukur untuk orang-orang yang masih perhatian padanya, tapi saat ini dia tidak bisa fokus pada Odi, Biba, ataupun kekhawatiran mulia bu Jessi.

“Jadi, gimana tempat perdana lo? Se-aneh tempat gue gak?”

Aneh? ‘Aneh’ telah menjadi perkataan yang mendeskripsikan perjalanan Pelajaran Sejarah Nesia kali ini.

“Biba lo berhasil merebut perhatian gue,” kata Nesia dalam hati. Dia kembali menaikkan alis tanda ‘keep talking, Ba’.

“Lo ngerti gak apa artinya ‘friends with benefits’? Di tempat gue tadi, ada orang yang bilang di radio kalau ‘friends with benefits kan boleh’.. trus penyiar satunya lagi merespon dengan ‘wah parah lo, di radio bilang gitu. Tar yang denger teracuni loh.’ Dan gue penasaran banget itu maksud mereka apaan.”

“Yah itu mah kurang. Gue lebih aneh lagi. Gue kayanya sampe di suatu kampus gitu deh. Trus karna gatau mesti ngapain untuk berbaur, gue buka tas yang ada di gue dan mencoba membaca apapun yang ada di dalamnya. Kirain ada buku teks, eh ternyata ada Alkitab. Seneng dong. Trus gue baca Alkitab di taman kampus gitu. Aneh banget orang-orang ngelewatin gue sambil menatap aneh gitu. Gue sempet denger sih “buset, Alkitab”. Padahal di pojokan ada orang lagi pacaran gak kudus malah dianggap biasa. Aneh banget gak sih?,” cerita Odi antusias, sambil mengernyitkan dahi.

“Di, Ba, kalian tadi travel ke tahun berapa?”

“2012.”

“2016.”

“Gue 2015….

Eh, kayanya gue harus nyamperin bu Jessi deh. Gue bener-bener penasaran kenapa orang di jaman mereka berperilaku kaya gitu. Dari tadi hati gue gelisah gak tenang.”

Again, dengan dengan satu tarikan nafas, Nesia meninggalkan teman-temannya di belakang dan hilang di belokan koridor.

Di dunia Nesia, Odi, dan Diba, tampaknya banyak hal yang termasuk aneh di jaman mereka, justru dianggap biasa di tahun 2000-an. Dan sebaliknya.

***

Terimakasih sudah membaca fiksi pertama saya yang disengaja. Tulisan diatas lahir dari pengalaman pribadi saat saya bertemu dengan stranger di airport yang cerita tentang majikannya, mendengar mahasiswi di Bandung yang membicarakan ‘bobo cantik’, dan mendengar siaran radio dimana dibilang ‘friends with benefits & no string attached kan boleh’…..

Banyak hal berbeda yang dapat ditemukan dari jaman Nesia dan jaman kita sekarang. Pertanyaan “manakah yang benar?” tidak bisa ditanyakan pada orang dari masing-masing jaman. Tapi coba tanyakan pada Standard yang sudah ada di alam semesta jauh sebelum manusia ada.

Tapi coba tanyakan pada Standard yang sudah ada di alam semesta jauh sebelum manusia ada.

***

14 Februari 2016 — Hai. Well gue mau nambahin chattingan gue minggu lalu dengan salah satu pembaca setia candleskoy mengenai cerita dibalik tulisan ini. Berujung pada chat panjang. Dia adalah salah satu pembaca gue di Balikpapan. Seru banget bisa kenal orang-orang yang ditemui hanya karna nulis di blog!

Advertisements

2 thoughts on “101. Fiksi: Back to the Future

  1. FY says:

    Ga sengaja nemu ini.

    kak makasih ya. aku bingung mau respons gimana. jadi emang ga boleh yah? soalnya kan ya gitu. tolong doain aku sama pacar aku ka. tapi kami masih saat teduh and gereja bareng sih. Ada kontak yang bisa di hubungin ga buat curhat? God bless you kak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: